write here

Sabtu, 17 Desember 2011

ngeksis disela2 kakakku yang wisuda

andrea milanisti si bocah leukimia

Saya yakin anda penggemar setia sepak bola. Tidak peduli apakah anda seorang
pengemar fanatic sebuah klub atau tidak, ada satu cerita menarik yang ingin
saya sampaikan pada kesempatan ini. Anda pasti kenal AC Milan klub asal
italy yang pada mei tahun 2003-04 berhasil menggondol trophy liga champion
setelah mengalahkan juventus dibabak final

Bukan cerita dibalik adu pinalti yang saya bahas karena saya memang bukan
komentator sepakbola yang sok pintar seperti yang ada di layer televisi.
Beberapa bulan sebelum pertandingan final piala champion yaitu pada maret
2003 ada kejadian heboh di kota milano markas besar AC Milan.

Waktu itu seorang penggemar setia Milan yang bernama Andrea dan masih
berumur 12 tahun menderita leukemia. Karena penyakitnya sudah tergolong
kronis dan dokter juga sudah angkat tangan, Andre pun tinggal menikmati
detik detik terakhir hidupnya. Menjelang detik detik terakhir sang bocah
hanya memiliki satu permintaan. Menurut anda apa kira kira permintaan si
Andrea..?? yang pasti si Andrea tidak meminta makanan yang enak, mainan yang
canggih, rumah atau mobil mewah..lalu apa dong..????

Andrea hanya punya satu harapan, dia berharap bisa melihat senyum Paolo
Maldini kapten AC Milan untuk yang terakhir kalinya. Alangkah terkejutnya
sang kapten setelah mengetahui permintaan Andrea. Esoknya Maldini dengan
satu kostum merah hitam bernomor punggung 3, plus foto dan tanda tangannya
datang kerumah sakit tempat Andrea dirawat.

Akan tetapi semua menjadi sia sia karena sang bocah sudah keburu meninggal
dunia. Apa mau dikata, niat baik dari sang kapten ternyata harus berakhir
dengan keharuan. Ternyata bukan itu saja, Andrea masih meninggalkan keharuan
yang lebih mendalam. Sebelum mengembuskan nafas terakhirnya, Andrea sempat
menulis sebuah pesan di secarik kertas kecil.

Pesan yang sangat mengharukan yang menunjukkan keinginan serta semangat
Andrea yang mulia. Ada satu kalimat yang sampai kini tidak bisa dilupakan
oleh pemain Milan, khususnya Paolo Maldini.

Andrea menulis " saya sungguh tidak menyesal ketika saya tidak bisa melihat
senyum pangeran saya untuk yang terakhir kali, karena saya akan melihat
senyuman dia dari atas sana pada final piala champion mei nanti di old
Trafford, sewaktu dia mengangkat tinggi tinggi trophy itu"

Pesan berikutnya dari Andrea adalah " setelah scudetto mustahil untuk di
rebut, tolong berjanjilah kepada saya bawalah trophy liga champion itu
kembali ke kota Milan. Saya memang sudah tidak ada lagi sekarang tetapi
semangat dan dukungan saya akan selalu ada didalam diri kalian. Saya akan
mendukung kalian dari atas sana "

Dan setelah tiga bulan berlalu setelah Milan berhasil mengalahkan juventus
di final liga champion, Maldini bersama Leonardo, gatuso, costacurta, dan
beberapa staff dari Milan foundation berziarah ke makam Andrea dengan
membawa trophy champion ke tempat peristirahatan terakhir sang bocah.

Dengan bijak, Maldini mengatakan " saya tentu masih ingat kejadian itu. Saya
hanya bisa menangis sewaktu melihat Andrea dimakamkan dengan kostum
kebesaran Rossoneri sambil memeluk boneka beruang dan sebuah album berisi
foto foto kami "

" waktu itu saya telah bersumpah untuk membawa Milan menjadi juara champion.
Saya juga sudah berjanji pada diri saya dan Andrea bahwa saya akan trophy
itu ke makam ini "

Jumat, 16 Desember 2011

KISAH SAPUTRA, LOPER KORAN YANG JADI JUARA DI MARKAS MILAN


Prestasi memang tidak memandang apakah seseorang berasal dari keluarga kaya atau miskin. Saputra (14), seorang remaja yang sehari-harinya menyambi sebagai loper koran, lolos seleksi tim Indonesian All Star. Bersama rekan-rekan satu tim, ia berhasil mempertahankan gelar juara Intesa Sanpaolo Cup 2011.

Saputra dkk. menggondol piala Intesa Sanpaolo Cup 2011 yang digelar oleh klub termasyur di Italia, AC Milan. Intesa Sanpaolo Cup sendiri merupakan turnamen tahunan yang menyedot perhatian di Milan Junior Camp Day. Di final 5 November lalu, para remaja asuhan pelatih Bambang Waskito itu menundukkan tim gabungan Venezuela-Brasil dengan skor 2-0.

Sementara dalam ujicoba dengan para pemain junior AC Milan Soccer Academy yang dihelat setelah kejuaraan selesai, tim Indonesian All Star juga menang 3-2. Tim Indonesian All Star merupakan tim pertama yang mengalahkan tim junior AC Milan yang dilatih dengan ketat.

Saputra pun merasa bangga bisa mempersembahkan hasil tersebut. Stiker tim Indonesian All Star ini menceritakan, kekompakan tim menjadi faktor penentu kemenangan. Selain kompak, timnya mempunyai semangat yang luar biasa sehingga mampu menggunguli 25 negara peserta turnamen sepak bola lainnya.

"Tim Indonesia sangat kompak dan terus banyak sekali motivasi. Kalau mau pas di lapangan semangat semua," kata Saputra, yang ditemui di sela-sela pertemuan tim Indonesian All Star dengan Wakil Presiden Boediono di Kantor Wapres, Jakarta Selatan, Kamis (10/11/2011).

Saputra adalah remaja kelahiran Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), 6 November 1997. Ia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Sejak kelas empat SD, Saputra sudah harus bekerja membantu orangtuanya yang beralamat di Jl Bendungan Lrg, Rawa Laut RT 03 RW 01 No 180/199, Palembang.

Untuk membantu perekonomian keluarga, remaja berambut cepak ini tak sungkan menjadi loper koran. Saban pagi, sebelum berangkat ke sekolah, ia menyetor koran ke lapak-lapak dan pelanggan. Setiap hari, uang Rp 15-20 ribu dikantonginya dari berjualan koran. Uang hasil jerih payahnya itu sebagian ia pergunakan untuk jajan dan sebagian lagi diberikan kepada ibunya yang cuma buruh cuci rumah tangga.

"Dari kelas 4 SD sampai kelas 3 SMP. Tapi kelas 3 ini sekolah pagi, jadi cukup untuk langganan bulanan atau di tempat sekolah. Guru-guru kadang beli sama aku," ucap Saputra.

Sebagaimana anak seusianya di Palembang, Saputra juga gemar olah raga sepakbola. Ia mulai menenekuni sepakbola sejak usia 5 tahun. Beranjak sedikit dari umur belianya tersebut, ia masuk ke Sekolah Sepak Bola (SSB) Sportivitas di Palembang. Sayang, gara-gara tidak punya uang, Saputra tidak bisa meneruskan latihan di SSB tersebut.

Pada prosesnya, kenang Saputra, ia memperoleh beasiswa sekolah sepak bola dari PT Pusri. Selama 3 tahun ini, ia giat berlatih di Pusri tiga kali seminggu. Namun, di tengah kesibukan untuk latihan rutin Saputra tetap melakukan pekerjaannya sebagai loper koran. Bahkan, dari aktivitasnya sebagai loper koran tersebut ia mengenal banyak pemain Sriwijaya FC dari dekat.

"Aku kebetulan jualan koran juga di mess-nya. Jualan koran. Ya, masih sampai sekarang. Biasa kamar Arif Suyono, Supardi Nasir, Firman utina. Jualan koran pagi, tapi kadang nunggu pemain selesai bangun tidur itu lama. Jadi, ya, sudah kumasukin di bawah pintu, siang baru ambil uangnya," tutur Saputra.

Ke Italia

Saputra tentu ingin meraih meraih prestasi seperti para pemain favoritnya di Sriwijaya FC tersebut. Kesempatan itu pun akhirnya tiba. Tanggal 29 Oktober 2011 lalu, ia mendengar ada penyaringan pemain untuk Indonesian All Star yang akan berlaga di Italia. Bersama temannya, Saputra pun mengikuti seleksi tersebut.

Dengan bekal uang pinjaman Rp 2.000, ia berangkat ke lokasi seleksi di Palembang. Uang itu dibelikan pempek untuk sarapan. Saputra berhasil lolos masuk 250 besar di seleksi pertama. Dan, pada hari berikutnya, tanggal 29 Oktober ia terpilih dalam 60 besar untuk menjalani seleksi di Bali.

"Seterusnya tanggal 29 hari Minggu nggak ada uang, sarapan mie saja sama teh. Udah pas itu saya bangga setelah sore-sore terpilih bisa seleksi 60 di bali. Orangtuaku bangga sekali," ucap Saputra.

Karena berteman akrab dengan pemain Sriwijaya FC, Saputra pun menelepon Supardi untuk mengabarkan keberhasilannya menembus 60 besar. "Pas mau ke Bali itu aku telepon Bang Supardi. 'Bang aku lolos. Ada nggak saran buat aku biar nggak cepet puas.' Dari situ aku ada rasa bangga sama dia," kata Saputra.

Di Bali, Saputra kian memuluskan langkah ke Jakarta. Dalam seleksi di Jakarta, ia berhasil masuk ke 18 besar tim yang diberangkatkan ke Italia atas dukungan PT Pertamina (Persero). Menurut Saputra, resepnya untuk berhasil adalah tidak pernah menyerah atau pasrah kepada keadaan.

"Pokoknya jangan nyerah deh. Ekonomi itu bukan segalanya hal untuk meraih mimpi atau prestasi. Berani untuk bermimpi dan jangan pernah takut. Semua itu pasti ada jalan," kata Saputra bijak.

Mengenai rencana masa depan, Saputra mengaku ingin menjadi pemain sepakbola nasional yang handal. Sedangkan dalam waktu dekat ini, ia akan kembali ke Palembang untuk bersekolah dan berlatih lagi di Pusri. Tetap jualan koran?

"Masih-lah. Dari mana aku bisa jajan sekolah sama buat kasih orang tua?" katanya sambil tersenyum.