write here

Sabtu, 17 Maret 2012

Jangan Cepat Puas, Milanisti Indonesia

post by il presidente of Milanisti Indonesia
Sewaktu ke Padang dalam rangka Gathering Milanisti Indonesia se Sumatera, saya melontarkan pertanyaan mengenai founder Milanisti Indonesia. Pertama saya tanyakan dua orang founder wanita, kedua saya tanyakan founder yang berstatus suami istri. Dan ternyata tidak ada yang bisa menjawab.
Sedikit berputar waktu ke belakang, dimana saya hadir di Bale Air, 16 Maret 2003. Bila Ronald, Jamzer, Toel, Ajung dan Lena sudah saling kenal dan aktif di milis saat itu. Justru saya benar-benar baru gabung dan langsung datang di bale air.  Seperti teman-teman lain yang baru gabung di organisasi, pertemuan saat itu saya lebih banyak diam. Karena saya melihat banyak sosok yang lebih senior seperti Arif Ikram dan Harris Nasution saat itu.
Satu hal yang saya yakin saat itu, saya bisa menjadi bagian dari organisasi ini. Tips agar bisa mudah diterima di organisasi adalah jadilah diri sendiri.
Periode dua tahun terakhir Milanisti Indonesia semakin berkembang. Jika dulu hanya ada 20 Sezione, sekarang sudah ada 39 Sezione resmi dan beberapa basis yang siap berkembang dan mengibarkan bendera Milanisti Indonesia. Periode 2008 – 10, hanya dari Medan sampai Manado, sekarang sudah ada di Aceh hingga Ternate, Ambon dan Jayapura yang baru berkembang. Pulau besar mana lagi yang belum? Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali sudah. Sekarang ditambah Lombok, Kepulauan Maluku, Papua akhirnya kami ada disana.
Dalam salah satu wawancara di radio local ibukota, saya ditanya perihal kenapa baru tahun 2010 Milanisti Indonesia mendaftarkan diri ke AC Milan melalui AIMC. Saat itu saya menjawab, “Kami ingin memastikan bahwa pondasi kami sebagai organisasi kuat dan solid. Dengan begitu kami bisa berkembang menjadi organisasi yang well managed.”
Saat ini begitu mudah kita membentuk suatu organisasi, media komunikasi sekarang lebih canggih disbanding dengan 9 tahun lalu. Dimana untuk mengumpulkan 10 orang saja sekarang sangatlah mudah. Berbeda dengan dulu, saya ingat Lena atau Jamz beberapa kali telepon ke rumah untuk memastikan saya hadir di meeting pembentukan Milanisti Indonesia. Kalo sekarang, bisa BBM, WhatsApp dan media komunikasi lain yang bisa dibawa kemana-mana.
Kembali lagi ke organisasi, Milanisti Indonesia di tahun 2010 sudah cukup memiliki pondasi. Umur 7 tahun bagi manusia adalah masanya kita keluar rumah. Dan itulah kenapa Milanisti Indonesia memberanikan diri untuk mendaftarkan diri ke AIMC. Anggota kami sudah banyak, solid dan cukup loyal. Cakupan daerah kami pun luas, sehingga wajar jika kami membawa panji negeri untuk atas nama Milanisti.
Jadi ingat pesan dari presiden Milanisti Indonesia pertama, Arif Ikram, kalo tidak salah pesannya seperti ini : “sudah saat-nya Milanisti Indonesia tidak mementingkan jumlah, tapi kualitas. Kualitas yang layak diberikan kepada member. Seperti perhatian, privileges untuk member dan hal lain yang akhirnya membuat member merasa nyaman.”
Di usia yang menginjak 9 tahun ini, kami memang belum memberikan apa yang sepertinya kalian harapkan. Tapi, kami berusaha dan terus memperbaiki diri sehingga kami bisa berkembang ke arah yang semestinya.
Pengembangan Milanisti Indonesia kedepan adalah mengembangkan komunikasi antar anggota, antar daerah dan mengembangkan komunikasi dengan teman-teman di luar negeri. Dua poin pertama masih terus kami lakukan, kegiatan-kegiatan gathering per pulau, seperti Sumatera, jawa, Sulawesi, Kalimantan, sudah dan akan terus coba di jalankan. Jujur, terpisahnya jalur komunikasi dimana banyak media social membuat kami harus menyiasati untuk membuat gathering yang akhirnya membuat antar anggota bisa saling kenal.
Komunikasi dengan teman-teman diluar negeri sudah kita mulai dari empat tahun lalu. Kami punya relasi yang cukup baik dengan teman-teman di Italia. Dengan Negara satu rumpun kami sudah membangun komunikasi sejak tiga tahun lalu, kunjungan dari teman-teman Milanisti Malaysia di 2011 hanya kami bales, dengan kunjungan yang dibarengi dengan nonton pertandingan Malaysia vs Indonesia dalam rangka Piala AFF.
Lebih jauh ke utara, kami berkomunikasi dengan teman-teman di Beijing, China. Awalnya dalam rangka Tour Milanisti Indonesia ke Beijing saat Supercoppa Italia. Akhirnya komunikasi itu berlanjut hingga kekeluargaan. Karena kami juga mengundang mereka untuk hadir dalam Milan Glorie yang kebetulan ada di Indonesia, September 2011.
Tidak berhenti sampai disitu kami terus membuka jalur komunikasi dengan tema-teman diluar. Tujuan besarnya adalah mengenalkan komunitas kami, dan menunjukkan bahwa Milanisti di Indonesia adalah salah satu yang terbesar. Tidak salah jika AC Milan melalui twitternya @acmilan sering menyapa dengan bahasa Indonesia, membuktikan perhatian klub terhadap fansnya yang ada di Indonesia.
Makin tinggi pohon makin kencang pula anginnya. Jika pondasi kita tidak kuat, yang ada adalah rubuh. Angin itu terus bertiup kencang hingga saat ini. Tapi, kami masih berdiri dengan tegak dan terus berkembang. Membuktikan bahwa kami cukup solid dan kokoh dalam menghadapi badai angin ini. Hal ini bisa, karena dukungan semua member yang terus percaya terhadap perkembangan Milanisti Indonesia.
Doa’kan kami supaya tetap bisa solid, Doa kan kami agar bisa berkembang. Selamat ulang tahun Milanisti Indonesia, ucapan dari seorang il bandiera Milanisti Indonesia saya rasa cukup mewakili harapan semua member.
RT @toelmaldini: 9 tahun usiamu, tetaplah kreatif dgn falsafah kekeluargaanmu serta bisa mewujudkan semua mimpi2 milanisti di negeri ini cc: @MilanistiOrId
RT @toelmaldini: teruslah belajar, belajar dan belajar, jangan cepat puas,  http://t.co/AXJmWofK #9thMI
Buon Compleano Milanisti Indonesia #9 2003 - 2012, La Communita dei Tifosi Milan In Indonesia.
Il Presidente,