write here

Senin, 09 April 2012

kisah inspiratif tuk yang akan berkeluarga dan sudah BY OSSEREM :)

sebelum membaca, lihat di www.osserem.com
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu.

 Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama.

 Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku.

Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja.

Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya.

Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya.

 Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa.

 Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan.

Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana.

Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku.

Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit.

 Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku.

 Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga.

Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
- T A M A T -

HHHmmmm… sangat mengharukan sekali. Sampai nangis membaca kisah cinta suami istri yang mengharukan diatas. Semoga para pembaca dapat mengambil hikmah dari kisah suami istri yang sangat mengharukan dan inspiratif tersebut.

Sabtu, 17 Maret 2012

Jangan Cepat Puas, Milanisti Indonesia

post by il presidente of Milanisti Indonesia
Sewaktu ke Padang dalam rangka Gathering Milanisti Indonesia se Sumatera, saya melontarkan pertanyaan mengenai founder Milanisti Indonesia. Pertama saya tanyakan dua orang founder wanita, kedua saya tanyakan founder yang berstatus suami istri. Dan ternyata tidak ada yang bisa menjawab.
Sedikit berputar waktu ke belakang, dimana saya hadir di Bale Air, 16 Maret 2003. Bila Ronald, Jamzer, Toel, Ajung dan Lena sudah saling kenal dan aktif di milis saat itu. Justru saya benar-benar baru gabung dan langsung datang di bale air.  Seperti teman-teman lain yang baru gabung di organisasi, pertemuan saat itu saya lebih banyak diam. Karena saya melihat banyak sosok yang lebih senior seperti Arif Ikram dan Harris Nasution saat itu.
Satu hal yang saya yakin saat itu, saya bisa menjadi bagian dari organisasi ini. Tips agar bisa mudah diterima di organisasi adalah jadilah diri sendiri.
Periode dua tahun terakhir Milanisti Indonesia semakin berkembang. Jika dulu hanya ada 20 Sezione, sekarang sudah ada 39 Sezione resmi dan beberapa basis yang siap berkembang dan mengibarkan bendera Milanisti Indonesia. Periode 2008 – 10, hanya dari Medan sampai Manado, sekarang sudah ada di Aceh hingga Ternate, Ambon dan Jayapura yang baru berkembang. Pulau besar mana lagi yang belum? Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali sudah. Sekarang ditambah Lombok, Kepulauan Maluku, Papua akhirnya kami ada disana.
Dalam salah satu wawancara di radio local ibukota, saya ditanya perihal kenapa baru tahun 2010 Milanisti Indonesia mendaftarkan diri ke AC Milan melalui AIMC. Saat itu saya menjawab, “Kami ingin memastikan bahwa pondasi kami sebagai organisasi kuat dan solid. Dengan begitu kami bisa berkembang menjadi organisasi yang well managed.”
Saat ini begitu mudah kita membentuk suatu organisasi, media komunikasi sekarang lebih canggih disbanding dengan 9 tahun lalu. Dimana untuk mengumpulkan 10 orang saja sekarang sangatlah mudah. Berbeda dengan dulu, saya ingat Lena atau Jamz beberapa kali telepon ke rumah untuk memastikan saya hadir di meeting pembentukan Milanisti Indonesia. Kalo sekarang, bisa BBM, WhatsApp dan media komunikasi lain yang bisa dibawa kemana-mana.
Kembali lagi ke organisasi, Milanisti Indonesia di tahun 2010 sudah cukup memiliki pondasi. Umur 7 tahun bagi manusia adalah masanya kita keluar rumah. Dan itulah kenapa Milanisti Indonesia memberanikan diri untuk mendaftarkan diri ke AIMC. Anggota kami sudah banyak, solid dan cukup loyal. Cakupan daerah kami pun luas, sehingga wajar jika kami membawa panji negeri untuk atas nama Milanisti.
Jadi ingat pesan dari presiden Milanisti Indonesia pertama, Arif Ikram, kalo tidak salah pesannya seperti ini : “sudah saat-nya Milanisti Indonesia tidak mementingkan jumlah, tapi kualitas. Kualitas yang layak diberikan kepada member. Seperti perhatian, privileges untuk member dan hal lain yang akhirnya membuat member merasa nyaman.”
Di usia yang menginjak 9 tahun ini, kami memang belum memberikan apa yang sepertinya kalian harapkan. Tapi, kami berusaha dan terus memperbaiki diri sehingga kami bisa berkembang ke arah yang semestinya.
Pengembangan Milanisti Indonesia kedepan adalah mengembangkan komunikasi antar anggota, antar daerah dan mengembangkan komunikasi dengan teman-teman di luar negeri. Dua poin pertama masih terus kami lakukan, kegiatan-kegiatan gathering per pulau, seperti Sumatera, jawa, Sulawesi, Kalimantan, sudah dan akan terus coba di jalankan. Jujur, terpisahnya jalur komunikasi dimana banyak media social membuat kami harus menyiasati untuk membuat gathering yang akhirnya membuat antar anggota bisa saling kenal.
Komunikasi dengan teman-teman diluar negeri sudah kita mulai dari empat tahun lalu. Kami punya relasi yang cukup baik dengan teman-teman di Italia. Dengan Negara satu rumpun kami sudah membangun komunikasi sejak tiga tahun lalu, kunjungan dari teman-teman Milanisti Malaysia di 2011 hanya kami bales, dengan kunjungan yang dibarengi dengan nonton pertandingan Malaysia vs Indonesia dalam rangka Piala AFF.
Lebih jauh ke utara, kami berkomunikasi dengan teman-teman di Beijing, China. Awalnya dalam rangka Tour Milanisti Indonesia ke Beijing saat Supercoppa Italia. Akhirnya komunikasi itu berlanjut hingga kekeluargaan. Karena kami juga mengundang mereka untuk hadir dalam Milan Glorie yang kebetulan ada di Indonesia, September 2011.
Tidak berhenti sampai disitu kami terus membuka jalur komunikasi dengan tema-teman diluar. Tujuan besarnya adalah mengenalkan komunitas kami, dan menunjukkan bahwa Milanisti di Indonesia adalah salah satu yang terbesar. Tidak salah jika AC Milan melalui twitternya @acmilan sering menyapa dengan bahasa Indonesia, membuktikan perhatian klub terhadap fansnya yang ada di Indonesia.
Makin tinggi pohon makin kencang pula anginnya. Jika pondasi kita tidak kuat, yang ada adalah rubuh. Angin itu terus bertiup kencang hingga saat ini. Tapi, kami masih berdiri dengan tegak dan terus berkembang. Membuktikan bahwa kami cukup solid dan kokoh dalam menghadapi badai angin ini. Hal ini bisa, karena dukungan semua member yang terus percaya terhadap perkembangan Milanisti Indonesia.
Doa’kan kami supaya tetap bisa solid, Doa kan kami agar bisa berkembang. Selamat ulang tahun Milanisti Indonesia, ucapan dari seorang il bandiera Milanisti Indonesia saya rasa cukup mewakili harapan semua member.
RT @toelmaldini: 9 tahun usiamu, tetaplah kreatif dgn falsafah kekeluargaanmu serta bisa mewujudkan semua mimpi2 milanisti di negeri ini cc: @MilanistiOrId
RT @toelmaldini: teruslah belajar, belajar dan belajar, jangan cepat puas,  http://t.co/AXJmWofK #9thMI
Buon Compleano Milanisti Indonesia #9 2003 - 2012, La Communita dei Tifosi Milan In Indonesia.
Il Presidente,

Selasa, 07 Februari 2012

beberapa contoh KINDS OF TEXT

Analytical Exposition

With money we can buy the things that we need every day. And there are many things that money can do.

Money is first of all a means of exchange. If you want to exchange some books that you do not need for a shirt, you may try to find someone who needs your books and who has the shirt that you want. But it is often hard to organize an exchange. It is easier to sell the books and then buy the shirt that you like.

Money is also a means of measuring the value of other things. It is easier to say how many rupiah a cow costs than to say that it has the same value as five goats.
We can also store value with money. It foes not spoil as fish or fruit or vegetables do when they are sold. The cost of things, of course, may change as time goes on and money that you have today may be less in the future. If it loses a lot of its value, money woll be a bad means of storing value. Then it will spoil farmer’s production spoil.

Finally, money is a means for making payments. You may buy a bicycle now and pay for it in five months, and make a payment of one-fifth on the cost every month. This is better than buying one-fifth of a bicycle at a time and not riding it until you have bought all parts. Many shopkeepers are happy to do this for you if your credit is good. That is, if you always make your payment on time.


















Anecdote text

Blessing Behind Tragedy

There was a black family in Scotland years ago. They were Clark family with nine children. They had a dream to go to America. The family worked and saved. They were making plan to travel with their children to America. It had taken several years but finally they had saved enough money. They had gotten passport. They had booked seats for the whole family member in a new liner to America.

The entire family was full of anticipation and excitement with their new life in America. However few days before their departure, the youngest son was bitten by a dog. The doctor sewed up the boy. Because of the possibility of getting rabies, there were being quarantined for long days. They were in quarantine when the departure time came. The family dreams were dashed. They could not make the trip to America as they had planned.

The father was full of disappointed and anger. He stomped the dock to watch the ship leaved without him and his family. He shed tears of disappointment. He cursed both his son and God for the misfortune.

Five days latter, the tragic news spread throughout Scotland. The ship, the mighty Titanic, had shank. It took hundreds of passenger and crew with it. Titanic which had been called the unsinkable ship had sunk. It was unbelievable but it was.

The Clak family should have been on that ship, but because of the bitten son by a dog, they were left behind. When the father heard the news, he hugged the son and thanked him for saving the family. He thanked God for saving their lives. It was a blessing behind a tragedy.



Descriptive text

Jakarta City


Jakarta is the capital city of Indonesia. It is centrally located within the country on the northwest coast of Java Island at the mouth of the Ciliwung river. Jakarta dominates Indonesian’s administrative, economy, cultural activities, an is a major commercial and transportation hub within Asia-with a population of about 9 million, Jakarta has more people than any other cities in Indonesia.
The climate is hot and humid year-round. Rainfall occurs throughout the year, although it is the heaviest from November to May. To average annual precipitation in Jakarta is 1, 790 mm. The city lies on a flat, low plain and is prone to flooding during periods of heavy rainfall.
Kota is city’s oldest commercial area. It is located south of the old Sunda Kelapa harbour. Glodok, the south of Kota is a banking, retail and residential neighborhood with a large Chinese population. Merdeka Square with Monas (The National Monument) dominates the city’s central district. Surrounding the square are Istana Merdeka, the presidential palace, the National Museum, and the Istiqlal Mosque.

Explanation text

The Picher of Death

You may have heard of a plant called the Picher of Death. As you can probably tell by its name, it kills and eats insects. If you want to know how, read on!

To catch flies and other insects, this plant needs a bait and a trap. The bait in this case in nectar. The trap is the cup or ‘pitcher’ shaped leaves which have short hairs at the top to give the insect a sure foothold, but slippery hairs pointing downwards, so it can’t escape once it falls in. the other part of the trap is a digestive fluid inside the cup.

How it catches the insect is really quite simple. First the insect is attracted by the nectar. Then it slips on the smooth inner surface of the plant. Next it is forced downwards by the slippery hairs. Then it falls into the digestive fluid and is drowned.

An interesting fact about this plant is that the pitcher leaves can grow to the size of a fully grown adult’s hand.

Tsunami

he term of “tsunami” comes from the Japanese which means harbour ("tsu") and wave ("nami"). A tsunami is a series of waves generated when water in a lake or the sea is rapidly displaced on a massive scale.

A tsunami can be generated when the sea floor abruptly deforms and vertically displaces the overlying water. Such large vertical movements of the earth's crust can occur at plate boundaries.

Seductions of earthquakes are particularly effective in generating tsunamis, and occur where denser oceanic plates slip under continental plates.

As the displaced water mass moves under the influence of gravity to regain its equilibrium, it radiates across the ocean like ripples on a pond.

Tsunami always bring great damage. Most of the damage is caused by the huge mass of water behind the initial wave front, as the height of the sea keeps rising fast and floods powerfully into the coastal area.

Hortatory exposition

What are Your Kids Watching?

Is it important to know your kids are watching? Of course it is. Television can expose your children to things that you have tried to protect them from, especially violence, drug abuse etc.

One study demonstrated that watching too much TV during the day or at bedtime often causes bedtime resistance, sleep onset delay and anxiety around sleep, followed by shortened sleep duration.

Another study found a significant association between the amount of time spent watching television during adolescence and early adulthood, and the likelihood of subsequent aggressive acts against other.

Meanwhile, many studies have found an association between kids watching a lot of TV, being inactive and overweight.

Considering some facts above, protect your children with some following tips:

1. Limit television viewing to 1-2 hours each, day.
2. Do not allow you children to have a TV set in their bedrooms.
3. Review the ratings of TV shows that your children watch.
4. Watch television with your children and discuss what is happening during the show.

Discuss alternative and more acceptable things that characters could have done.

Narrative text
MOMOTARO
Once upon a time, there lived in Japan a peasant and his wife. They were sad couple because they had no children. They kept praying to their god pleading to give them a child.
While cutting wood by a stream one day, the man saw a large peach floating on the water. He ran to pick it up. His wife was excited because she had never seen such a large peach before. They were about to cut the peach when they heard a voice from inside.
The couples were surprised to do anything. The peach then cracked open, and there was a beautiful baby inside. The couples were very happy, of course. They named the baby Momotaro, which meant ‘peach boy’.
Momotaro grew up to be clever, courage young man. His parents loved him very much.
One day, Momotaro told his parents hat he was going to fight the pirates who always attacked their village. These pirates lived on an island a few kilometers away. Momotaro’s mother packed his food, and his father gave him a sword. Having blessed Momotaro, they sent him off on his journey.
Sailing on his boat, Momotaro met an eagle going in the same direction. They became good friends; soon, both of them arrived on the island of the pirates.
Momotaro drew out the sacred sword his father had given him and began to fight the pirates. The eagle flew over the thieves’ heads, pecking at their eyes. Finally, the pirates were defeated.
Momotaro brought home all the goods that pirates had stolen. His parents were proud of him, and they were overjoyed at his victory and save return.

News item text

SBY, Boediono complete medical check-up

Erwida Maulia , The Jakarta Post , Jakarta | Mon, 05/18/2009 4:24 PM | National

Presidential candidate Susilo Bambang Yudhoyono and his running mate Boediono completed their seven-hour medical check-up on Monday afternoon as part of requirement to contest the July 8 presidential election.

The pair is thus the last candidate couple having their health screened at RSPAD Gatot Subroto army hospital after Jusuf Kalla-Wiranto and Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto had theirs earlier on Sunday.

"I consider this as a quite heavy test. We undergo almost seven hours of detailed and in-depth check-up, including on our mental health. We are now waiting for the result and hope we can pass the test," Yudhoyono told reporters after completing his medical check-up.

Indonesian Medical Doctors Association (IDI) chairman Fahmi Idris said the medical check-up consisted of 10 tests -- one mental and nine physical health tests, including neurology, eyes, heart and circulation system, digestive system, and urinology tests.

He said the doctors team conducting the tests consisted of 43 doctors; 29 from the IDI and 14 from the army hospital.

General Elections Commission (KPU) commissioner Syamsul Bahri said that the KPU was expecting to receive the results of the test on Tuesday.

In the meantime on Monday evening the commision plans to hold a plenary session to review the completion of requirements of all the presidential and vice presidential candidates.


Procedure text

How to Make an Avocado Dessert (Goal)


  1. To easily scoop out the meat of the avocado, slice across the avocado until your knife hits the pit. Grab both halves and twist in opposite directions. Take one half of the avocado, set aside. To take out the pit, and tap it with the sharp blade of your knife so the blade gets stuck into the pit. Then twist the lower half. If you are planning to delay the preparation, keep the pit on the avocado and put the other half back to prevent oxidation.
  2. Scoop out the meat into the bowl. Add lemon juice to prevent further oxidation. If you prefer, you can slice the avocado into smaller pieces, or you can mash it with a fork.
  3. Drizzle the avocado with the condensed milk. Toss (or mix) until the avocados are thoroughly coated with the milk. (Yes, you can add an extra helping of the milk if you like).
  4. Chill in the fridge or the freezer. Do not freeze. If you do freeze it, you can reconstitute it by placing the dish in a hot water bath (the bowl, not the dish).
  5. Serve in a bowl with an extra drizzle of milk and some ice chips.

Recount text

Recount text (1)

On Children's Day in 1999, a technology company treated more than 200 underprivileged children to a 'high-tech' experience. They were given training on information technology.

The company wanted to provide opportunities for these children to learn more about the Internet and the latest technology. They wanted to help the less fortunate in the community.

The children had an enjoyable and educational experience that day. They were exposed to the new technology for the first time and they were very interested. The company hoped to conduct many more such training sessions for these children. They fell that the skills the children had would be useful to them when they grew up.

The company was very active in caring for the less fortunate. They even put aside one day a year for their employees to do volunteer work to help the needy. They also donated money to many charitable organisations.

Many people had benefited from their efforts. Many also praised the company for being so generous towards the needy.

Recount text (2)

This morning with my hands full of bags, I went to the railway station to catch my train at 10:00.
I went there with a cab. To my surprise, when I just stepped my feet outside the cab, I could see a terrible beru huge crowd inside the railway station. As soon as I got myself into the crowd, I could smell millions of odor smells that were really horrible. I could not help myself to get rid of that because my hands were full with luggage. I just squeezed myself between two Chinese people and managed to pull myself out of the crowd onto the bridge to the railway station. I was luck as I have booked the ticked to Alor Seter. So I didn’t bother to queue up for a ticket.

Report text

Harvesting machines

Headers harvest crops such as wheat, barley and oats. These machines are also known as combine harvesters. Headers combine the three operations needed to harvest a crop -- reaping, threshing and winnowing.
The comb on the front of the header cuts the heads off the stalks (reaping). The auger pulls the heads into the machine. The stalks left standing in the paddock are called stubble.

Threshing involves separating the grains from the head. The drum rotates, beating the heads. Straw and chaff (bits of stalk) are fed out the back of the header. Straw is spread over the ground. Stock can graze on this and the standing stubble left after harvest.

There are a number of screens in the header. Grain passes over these and fans blow the husks away. This is called winnowing. The clean grain is stored in the box. When this is full the grain is augered out into a chaser bin or truck.

Platypus

Many people call platypus duckbill because this animal has a bill like duckbill. Platypus is a native Tasmania and southern and eastern Australia.
Platypus has a flat tail and webbed feet. Its body length is 30 to 45 cm and covered with a thick, and woolly layer of fur. Its bill is detecting prey and stirring up mud. Platypus' eyes and head are small. It has no ears but has ability to sense sound and light.
Platypus lives in streams, rivers, and lakes. Female platypus usually dig burrows in the streams or river banks. The burrows are blocked with soil to protect it from intruders and flooding. In the other hand, male platypus does not need any burrow to stay.

Analyzing on the Text
Generic Structure analysis
General classification; stating general classification, the animal of platypus.
Description; describing in detail characterization of platypus' body and habitual life
Language Feature Analysis
Focusing in group; the animal of platypus
conditional, logical connective; but, in the other hand
Simple present tense pattern; Platypus lives in streams, male platypus does not need any burrow, etc

Review text

The Last Emperor

In The Last Emperor, director Bernardo Betolucci not only gives us a fascinating history lesson but also compelling human drama. It is the story of Pu Yi, who came to throne in 1908 at the age of 2. The performances are outstanding and the movie is spectacular in every way. The 3 hours fly by, and the audience is left feeling they have gotten to know a great country and sensitive, unusual an.

Don't go see The Last Emperor if you're expecting a history lesson. Bertolucci's epic about the rise and fall of Pu Yi is hardto follow and confusing at times. But he has done a remarkable job of portraying the Chinese culture, and he has captured China in stunningly beautiful images. There are some touching scenes, such as when the young Pu yi's nurse is taken from him.Unfortunately, the movie is toolong and tends to drag on times.

Bernardo Bertolucci is a talented director. Why he made The Last Emperor is a mystery. True, the scenery and customes are nice. But the main character is passive and dull. he simply watches his life go by. You'd expect a film which covers60 years of history to be exciting. But the 3 hours of The last Emperor drag on forever. At last the film is consistent-consistently boring.

Browniest, a Bite of Sweet Cake, a Bit of Love Story

Another Indonesian romantic drama feature film by a young and talented director, Hanung Bramantyo, will soon be released director, Hanung Bramantyo, will soon be released this year. Fans of Marcella Zalianty, Bucek Deep, and Arie Untung Kuncoro will be able to see their idol acting in the movie titled BROWNIES. The film is produced by SinemArt, which also produced:Mengejar Matahari".
The theme is simple; it's about love. Love-with its bittersweet story-becomes the highlight that enriches the movie plot. The reason is quite obvious, love theme always attracts more audience to com to the cinema.
Mel (Marcella Zalianty), a copywriter in an advertising agency, has a life that's focused on her job. Although Mel is engaged to Joe (Philip Yusuf), Didi (Renia)-her close friend-questions if Joe is really Mel's kind of guy. Later in the story, Mel finds out that Joe has been going out with another girl all this time. Then, Mel, meets Are (Bucek Deep), ayoung artist who writes, owns a bokstore, and makes browniest! Are even has a smal browniest shop that Mel loves to visit. Are's artistic attitude and Joe's betrayal have clearly affected Mel's life.
BROWNIES is the first Indonesian movie that is shot using Panasonic High Definition cameras, which results in a film that looks as if it's recorded on standard celluloid film, while squeezing production cost.

Spoof text

Saved by stilts

The king wanted to test Abu Nawas’ smartness. So he invited Abu Nawas to the palace. “You want me, your Majesty?” greeted Abu Nawas. “Yes, you have fooled me three times and that’s too much. I want you to leave the country. Otherwise you will have to go to jail” said the king. “If that is what you want, I will do what you said” said Abu Nawas sadly. Then “Remember, from tomorrow you may not step on the ground of this country anymore” the king said seriously. Then Abu nawas left the king palace sadly.
The following morning the king ordered his two guards to go to Abu Nawas’ house. The guards were very surprised found Abu Nawas still in his house. He had not left the country yet. Instead leaving the country, Abu Nawas was swimming in small pool in front of his house. “Hey Abu Nawas, why haven’t you left this country yet? The king ordered you not to step on the ground of this country anymore, didn’t he?” said the guards. “Sure he did” answered Abu Nawas calmly. “But look at me! Do I step on the ground of this country? No, I do not step on the ground. I am swimming on the water” continued Abu Nawas.
The guards were not able to argue with Abu Nawas so they left Abu Nawas’ house and went back to the palace. The guards reported what they had seen to the king. The king was curious on Abu Nawas’ excuse not to leave the country. Therefore the king ordered his guard to call Abu Nawas to come to the palace.
Abu Nawas came to the palace on stilts. The king wondered and said “Abu, I will surely punish you because you haven’t done what I have said. You have not left this country”. The King continued “And now, look at you. You walk on stilts like a child. Are you crazy? The king pretended to be furious.
“I remember exactly what you said, Your Majesty” Abu Nawas answered calmly. “This morning I took a bath in the small pool in my house so that I had not to step on the ground. And since yesterday, I have been walking on this stilts. So you see, Your Majesty, I do not step on the ground of this country”. The king was not able to say anything.